Kamis, 09 Oktober 2014

Upaya Membuat Perusahaan Sukses dan Terkenal

Perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya semua faktor produksi. Setiap perusahaan ada yang terdaftar di pemerintah dan ada pula yang tidak. Bagi perusahaan yang terdaftar di pemerintah, mereka mempunyai badan usaha untuk perusahaannya. Badan usaha ini adalah status dari perusahaan tersebut yang terdaftar di pemerintah secara resmi.
Dalam memajukan atau mensukseskan suatu perusahaan perlu diperhatikan beberapa hal. Yaitu, dimulai dari segi pemimpin perusahaan, karyawan, etika kerja dan budaya organisasi yang saling mempengaruhi.
Dari segi pemimpin, suatu perusahaan harus mempunyai pemimpin yang punya karakteristik kepemimpinan. Dengan adanya karakteristik kepemimpinan itu seseorang dapat mempengarui orang lain, karakteristik ini akan efektif jika ada interaksi antara karakter pribadi dan situasi.
  • Menurut Contingen Theory dikembangkan oleh Fred Fields (Fiedl. 78)
Bicara tentang efektifitas leadership yang dipengaruhi oleh interaksi antara karakteristik seorang leader dan situasi dan mampu mengontrol situasi. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi ke efektifitasan :
1.      Interaksi leader dan follower
2.      Struktur penugasan
3.      Otoritas
  • Path – Goal Theory (lebih focus kepada perilaku seorang leader untuk mengoptimalkan bawahannya untuk mencapai suatu tujuan).
Ada empat gaya kepemimpinan yang mendorong bawahannya agar mencapai tujuan:
1.      Directif leadership (menunjukan apa yang harus dilakukan atau tidak, menunjukan arah).
2.      Suportif (mendukung), bawahan melakukan kemauan sendiri untuk mencapai goal.
3.      Partisipasi Leadership (bawahan diajak diskusi dalam mengambil suatu keputusan) sama – sama berfikir.
4.      Achievment Oriented Leadership (leader menentukan target pada karyawan).
Diantara keempat gaya kepemimpinan ini tidak ada benar dan tidak ada yang salah, semua hanya tergantung pada situasi.
  • Leader – member exchange theory (Grean dkk, 75)
Bagaimana interaksi antara leader dan memberi mempengaruhi proses kepemimpinan (harus rukun). Contohnya : supervisor dengan bawahan hubungannya terjalin dengan baik. Dengan theory ini bawahan menjadi berguna (diberdayakan).
  • Implict Leadership
Seorang good leader, dapat atau mau mengubah cara kepemimpinannya sesuai situasi. Akan tetapi anggapan good leader itu tergantung dari persepsi bawahannya.
selain itu ada beberapa gaya kepemimpinan yang dapat mempengaruhi kemajuan atau kesuksesan perusahan.
1)      Otoriter vs Demokratis
Pada otoriter kekuasaan di pegang penuh oleh leader (baik keputasan atau situasi). Sementara, pada demokratis bukan hanya leader yang membuat keputusan tapi bawahan dapat berpartisipasi.
2)      Transaksional vs Transformasi
Pada transaksional gaya pemimpinannya leader menentukan target pada karyawan, leader juga menujukan arah seperti apa yang harus dilakukan dan yang tidak. Tetapi tetap ada feedback. Sementara transformasi, leader menginspirasi bawahannya, menciptakan suasan yang nyaman
3)      Pemimpin Karismatik
Memiliki pribadi yang kuat (bukan berarti dominan), seseorang yang punya karisma dan pemimpin yang memiliki visi yang jelas.
Dari segi karyawan, agar perusahaan dapat mensukseskan perusahaan harus ada motivasi dalam bekerja, kejujuran, kesetiaan pada perusahaan,aktif,mampu memberi ide – ide atau pendapat dalam musyawarah pengambilan keputusan. Selain itu karyawan yang tidak dalam keadaan stress lebih dapat bekerja optimal, lalu perusahaan juga harus memperhatikan tunjangan – tunjangan terhadap kehidupan karyawan karena bagaimana pun karyawan atau bawahan adalah manusi. Dengan dipenuhi seluruh haknya dengan adil besar kemungkinan karyawan akan melaksanakan kewajibannya dengan maksimal dan akan membawa perusahaan itu kearah yang lebih bagus bahkan dapat mencapai tujuan.
Budaya Organisasi adalah bagaimana seseorang dalam berorganisasi berbagai nilai hidup, keyakinan dan tradisi. Secara umum, budaya organisasi ialah cara berfikir inovatif dari para anggota organisasi yang membedakan anggota organisasi A dan anggota organisasi B. Budaya organisasi tersebut dibentuk oleh anggota organisasi.
Etika di tempat Kerja. Pada dasarnya etika kerja itu tergantung budaya organisasi dalam perusahaan tersebut. Mampu kah para anggota baik leader atau karyawan menaati peraturan yang sudah dibuat sehingga ada aturan baku yang tidak bisa dilanggar.

CARA AGAR PERUSAHAAN LEBIH TERKENAL
Cara paling ampuh pada saat ini dalam hal promosi adalah internet. Dengan internet kita dapat memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat luas. Beberapa contoh fungsi internet dapat membuat perusahaan terkenal.
  1. Membuat Fans Page Facebook
Selain untuk berpromosi tentang produk atau jasa yang ditawarkan perusahan, dapat memperkenalkan perusahaan. Tampilkan segala kelebihan dan Keuntungan yang terdapat dalam perusahaan.
  1. Blog
Melalui blog kita dapat pula mempromosikan perusahan atau produk kita. Kita punya halaman sendiri sehingga dapat memberi informasi yang begitu luas tentang perusahaan.
  1. Memanfaatkan Media Iklan di Internet
Iklan PPC, adalah sebuah jenis iklan di mana perusahaan hanya akan membayar untuk setiap klik yang terjadi pada iklan yang dipasang. Contoh iklan PPC ini misalnya iklan di Google Adwords, iklan di Facebook, dan banyak lagi berbagai layanan iklan PPC lainnya.
Iklan dalam bentuk video, media video juga bisa dijadikan sebagai sarana beriklan. Anda bisa coba buat video promosi, lalu sebarkan video tersebut di Youtube, maka nanti akan semakin banyak orang yang tahu mengenai produk tersebut.
  1. Logo
Dengan membuat suatu logo perusahaan itu akan mudah diingat oleh masyarakat luas. Logo yang menarik akan mudah diingat dan disukai.


sumber :
http://jefferlysuperclub.com/cara-cara-super-menjadikan-perusahaan-anda-dikenal-lewat-internet/

Jumat, 23 Mei 2014

Penyesuaian Diri

Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri dalam Bahasa inggris disebut adjustment atau personal adjustment. Pengertian penyesuain diri adalah suatu proses dimana individu mampu melakukan penyesuaian atau adanya perubahan tingkah laku, pola pikir agar tercipta hubungan baik antara individu dan lingkungannya. Dengan melakukan suatu penyesuaian diri itu dapat membuat individu tersebut sehat secara fisik dan mentalnya. Karena tidak ada rasa cemas, resah atau perasaan tidak diterima (terasingkan) karena tidak mampu melakukan penyesuain diri. Menurut Schneiders, penyesuaian diri itu dapat dilihat dari tiga sudut pandang :
1.      Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation)
Penyesuaian diri sebagai adaptasi berarti individu lebih kearah fisik, fisiologis atau biologis. Sebagai contoh, seorang yang pindah ke daerah tropis mampu menyesuaikan dengan iklim tersebut.
2.      Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity)
Individu mampu menghidari diri dari penyimpangan, baik secara moral,social dan emosional (berkaitan dengan norma).
3.      Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery)
Kemampuan individu merencanak atau mengorganisasi stimulus yang ada sehingga tidak timbul konflik yang meberikan kesulitan untuk individu tersebut.

Konsep Penyesuaian Diri yang Sehat

Penyesuaian diri yang sehat itu berhubungan dengan Kesehatan Mental, walau berhubungan tetapi tidak mudah ditetapkan. Kesehatan mental merupakan suatu hal yang penting karena sangat dibutuhkan untuk penyesuaian diri yang baik dan begitu juga sebaliknya. Apabila seseorang sehat secara mental otomatis dia mampu melakukan penyesuaian diri yang baik atau sehat. Dapat dikatakan kesehatan mental adalah kunci utama untuk penyesuaian diri (Scott,1961).
Karakteristik Penyesuaian diri yang sehat, antara lain :
1.   Mampu menilai dirinya sebagaimana adanya

2.   Mampu menilai situasi secara realistik

3.   Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistic

4.   Menerima  tanggung jawab

5.   Kemandirian

6.   Dapat mengontrol emosi

7.   Berorientasi tujuan

8.   Berorientasi keluar

9.   Penerimaan sosial

10. Memilki filsafat hidup

11. Berbahagia


Selain berhubungan dengan kesehatan mental, penyesuaian diri yang sehat berarti kita menyesuaikan diri terhadap hal-hal positif. Seperti yang dikemukakan oleh Hariyadi dkk.

Menurut Hariyadi dkk. (2003) terdapat beberapa karakteristik penyesuaian diri yang positif, diantaranya:

1. Kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya. Karakteristik ini mengandung pengertian bahwa orang yang mempunyai penyesuaian diri yang positif adalah orang yang sanggup menerima kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan di samping kelebihan-kelebihannya. Individu tersebut mampu menghayati kepuasan terhadap keadaan dirinya sendiri, dan membenci apalagi merusak keadaan dirinya betapapun kurang memuaskan menurut penilaiannya. Hal ini bukan berarti bersikap pasif menerima keadaan yang demikian, melainkan ada usaha aktif disertai kesanggupan mengembangkan segenap bakat, potensi, serta kemampuannya secara maksimal.

2. Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luar dirinya secara objektif, sesuai dengan perkembangan rasional dan perasaan. Orang yang memiliki penyesuaian diri positif memiliki ketajaman dalam memandang realita, dan mampu memperlakukan realitas atau kenyataan secara wajar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Ia dalam berperilaku selalu bersikap mau belajar dari orang lain, sehingga secara terbuka pula ia mau menerima feedback dari orang lain.

3. Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi, kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif di luar dirinya. Karakteristik ini ditandai oleh kecenderungan seseorang untuk tidak menyia-nyiakan kekuatan yang ada pada dirinya dan akan melakukan hal-hal yang jauh di luar jangkauan kemampuannya. Hal ini terjadi perimbangan yang rasional antara energi yang dikeluarkan dengan hasil yang diperolehnya, sehingga timbul kepercayaan terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.

4. Memiliki perasaan yang aman dan memadai Individu yang tidak lagi dihantui oleh rasa cemas ataupun ketakutan dalam hidupnya serta tidak mudah dikecewakan oleh keadaan sekitarnya. Perasaan aman mengandung arti pula bahwa orang tersebut mempunyai harga diri yang mantap, tidak lagi merasa terancam dirinya oleh lingkungan dimana ia berada, dapat menaruh kepercayaan terhadap lingkungan dan dapat menerima kenyataan terhadap keterbatasan maupun kekurangan-kekurangan dan lingkungan-nya.

5. Rasa hormat pada manusia dan mampu bertindak toleran Karakteristik ini ditandai oleh adanya pengertian dan penerimaan keadaan di luar dirinya walaupun sebenarnya kurang sesuai dengan harapan atau keinginannya.

6. Terbuka dan sanggup menerima umpan balik Karakteristik ini ditandai oleh kemampuan bersikap dan berbicara atas dasar kenyataan sebenarnya, ada kemauan belajar dari keadaan sekitarnya, khususnya belajar mengenai reaksi orang lain terhadap perilakunya.

7. Memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi Hal ini tercermin dalam memelihara tata hubungan dengan orang lain, yakni tata hubungan yang hangat penuh perasaan, mempunyai pengertian yang dalam, dan sikapnya wajar.

8. Mampu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, serta selaras dengan hak dan kewajibannya.

9. Individu mampu mematuhi dan melaksanakan norma yang berlaku tanpa adanya paksaan dalam setiap perilakunya. Sikap dan perilakunya selalu didasarkan atas kesadaran akan kebutuhan norma, dan atas keinsyafan sendiri.


Daftar Pustaka :
http://belajarpsikologi.com/pengertian-penyesuaian-diri/
http://himcyoo.wordpress.com/2012/05/12/1763/

Minggu, 27 April 2014

Stress

Dalam menjalani hidup ini, kehidupan seseorang tidak pernah berjalan mulus tanpa adanya suatu masalah. Bagi seseorang yang kurang ahli atau tidak bisa mengatasi masalah tersebut akan membuatnya terancam dan mengganggu hidupnya dan akan menimbulkan stress. Tapi, apa sebenarnya stress itu? Mari kita bahas.
Pengertian Stress
Stress merupakan bentuk ketegangan fisik, psikis, emosi maupun mental. Ketegangan ini biasanya mempengaruhi kehidupan seseorang. Bahkan dengan stress seseorang akan cenderung mengalami penurunan terhadap kinerja dan produktivitasnya. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Sedangkan berdasarkan definisi kerja stress, stress dapat diartikan sebagai:
  • Suatu tanggapan adaptif, dengan adanya perbedaan antara individual dan proses psikologisnya. Yaitu adanya suatu konsekuensi secara berlebihan terhadap seseorang dari apa yang telah ia lakukan. Konsekuensi itu jelas membebani secara fisik maupun mental.
  • Sebagai suatu tanggapan penyesuaian, dipengaruhi oleh perbedaan individu dan atau proses psikologis yang merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan dari luar (lingkungan ) situasi atau peristiwa yang menetapkan permintaan psikologis dan atau fisik berlebihan pada seseorang.
Akan tetapi stress tidak selamanya bersifat negatif, stress bisa juga bersifat positif jika seseorang menganggap stress sbagai tekanan yang dapat memicu orang tersebut berbuat lebih baik.
Stres dibedakan menjadi dua yaitu stres yang merugikan dan merusak yang disebut distress, dan stres yang positif dan menguntungkan, yang disebut eustres. Setiap individu mempunyai reaksi yang berbeda terhadap jenis stres,  dalam kenyataannya stres menyebabkan sebagian individu menjadi putus asa tetapi bagi individu lain justru dapat menjadi dorongan baginya untuk lebih baik (Tanumidjojo, dkk 2004).
                                         
Pengertian Stress Menurut Para Ahli
Hardjana (1994) mendefinisikan stres sebagai suatu keadaan atau kondisi yang tercipta dalam proses transaksi orang yang mengalami stres dan hal yang dianggap yang mendatangkan stres sehingga membuat orang yang bersangkutan melihat ketidak sepadanan yang bersifat nyata maupun tidak nyata, antara keadaan atau kondisi dan sistem sumber daya biologis, psikologis, dan sosial yang ada padanya.
Menurut Wangsa ( 2010) istilah stres berasal dari kata “stringere “  yang mempunyai arti ketegangan, dan tekanan. Stres merupakan reaksi yang tidak diharapkan yang muncul disebabkan oleh tingginya tuntutan lingkungan kepada seseorang. Dimana harmoni atau keseimbangan antara kekuatan dan kemampuannya terganggu.

Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau mambuat aktif organisme.
Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.
Lazarus (1984) menjelaskan bahwa stress juga dapat diartikan sebagai:
  • Stimulus, yaitu stress merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang menimbulkan stress atau disebut juga dengan stressor. 
  • Respon, yaitu stress merupakan suatu respon atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stress. Respon yang muncul dapat secara psikologis, seperti: takut, cemas, sulit berkonsentrasi dan mudah tersinggung.
Penyebab Stress
Seseorang dapat mengalami stres disebabkan oleh beberapa faktor :
  1. Faktor Eksternal
Faktor eksternal berasal dari luar diri manusia, seperti lingkungan dan keadaan. Contoh dari faktor eksternal adalah karyawan yang diphk, mahasiswa dengan tugas banyak, seseorang mengalami kejadian duka.
  1. Faktor Internal
Faktor internal stress berhubungan erat dengan faktor dari diri sendiri dan keadaannya. Misalnya, harapan yang terlalu tinggi dan sulit mencapainya, ketakutan akan seuatu hal, trauma dll.
Coping stress
Coping adalah proses dimana seseorang mengatur kenyataan atau persepsi mereka terhadap kenyataan yang bertentangan dengan harapan kita dan sumber pemenuhan harapan pada situasi stress.
Menurut Radley (1994), Coping stres yaitu sebagai penyesuaian secara kognitif dan perilaku menuju keadaan yang lebih baik, mengurangi dan bertoleransi dengan tuntutantuntutan yang ada yang mengakibatkan stres.
Untuk penanganan stress, coping memiliki dua jenis fungsi yaitu coping yang terfokus pada emosi dan yang terfokus pada masalah atau problem.
1.Emotion-focused coping
Fungsi dari coping ini adalah untuk mengatur respon emosi dari seseorang melalui perilaku. Contohnya adalah minum alcohol atau mencari dukungan sosial
2.Problem-focused coping
Untuk menangani stress, coping ini lebih menekankan pada pengurangan tuntutan dari stressor atau menambah jumlah sumber daya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Cara utamanya adalah dengan percaya bahwa mereka dapat mengubah situasi.
Ada banyak jenis metode pada coping stress. Metode-metodenya antara lain direct action (aksi langsung), seeking information (pencarian informasi), turning to other(pembelokan ke yang lain), resigned acceptance(berhenti menerima), emotional discharge (pembebasan emosi), intrapsychic processes(proses jiwa)
Coping pada seseorang tergantung pada dimana tingkat kehidupan orang tersebut. Ada beberapa cara untuk menjadikan coping lebih efektif yaitu :
•  Farmakologi
•  Metode perilaku dan kognitif
•  Meditasi dan hypnosis

Teori Kepribadian Sehat Menurut :
Gordon Allport
Minat Allport terhadap pribadi yang sehat secara psikologis dimulai tahun 1922, yaitu ketika mendapatkan gelar Ph.D. menurut Allport pribadi yang sehat biasanya mempunyai masa kecil yang relative tidak traumatis walaupun pada tahun-tahun berikutnya mereka dapat menghadapi konflik dan penderitaan, orang-orang yang sehat secata psikologi tidak terbebas dari kelemahan-kelemahan ataupun keanehan-keanehan yang membuat mereka unik. Selain itu, usia juga tidakdiperlukan untuk kedewasaan, walaupun manusia yang sehat kleihatan menjadi lebih dewasa saat mereka bertambah umurnya.
Carl Rogers
Roger berpendapat bahwa kepribadian yang sehat, yaitu bukan merupakan suatu keadaan yang ada, melainkan suatu proses “suatu arah bukan suatu tujuan”. Aktualisasi berlangsung terus dan statis. Tujuan, yakni orientasi ke masa depan, menarik individu kedepan dan mengembangkan segala segi dari diri.
Aktualisasi diri merupakan proses yang sukardan kadang-kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan ujian, rentangan, dan pecutan terus menerus terhadap kemampuan seseorang.
Aktualisasi diri yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi dibalik topeng, yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sebenarnya.
Roger memberikan lima tanda-tanda orang yang melakukan aktualisasi diri :
1.        Keterbuka pada pengalaman
Kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi dapat menggunakannya dalam membuka esempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Sebaliknya kepribadian defensif beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, tersembunyi dibelakang peran-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman-pengalaman tertentu. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih emosional karena mereka mengalami banyak emosi baik yang positif maupun negatif
2.    Kehidupan eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya, aktualisasi diri, akan hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan karena ia terbuka pada setiap pengalaman. Pengalaman selalu dirasa segar dan baru. Ia tidak akan beperasangka dan mudah menyesuaikan diri terhadap pengalaman sehingga tidak harus memanipulasi apa yang dialaminya sehingga mereka dapat dengan bebas berpartisipasi didalamnya.. Menurut Rogers, kehidupan eksistensial ini merupakan ciri terpenting kepribadian yang melakukan aktualisasi diri/keperibadian yang sehat.
3.    Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Orang yang sehat akan terbuka pada pengalaman sehingga ia menerima semua informasi yang ada, informasi dapat berisi kebutuhan-kebutuhan, tuntutan-tuntutan sosial, ingatan-ingatan pada situasi yang serupa pada masa sekarang. Individu yang sehat dapat membiarkan seluruh organisme mempertimbangkan setiap hal, dari suatu situasi dengan.
Faktor emosional maupun intelektual, akan menyerap semua informasi yang diterima. Hal ini menjadikannya dalam membuat keputusan dapat mempercayai organismenya sendiri, intuisinya, impuls-impuls yang timbul seketika. Ia menjadi spontan namun tidak terburu-buru (tidak mempertimbangkan konsekuensi tindakan). Ia percaya dirinya sendiri.
4.    Persaaan bebas
Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Ia memiliki perasaan berkuasa secara peribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku keadaan atau peristiwa masa lampau. Karena merasa bebas dan berkuasa, ia menjadi mampu melihat banyaknya pilihan dalam kehidupan dan mampu melakukan pilihan-pilihan tersebut sesuai kehendaknya.
5.    Kreativitas
Roger percaya bahwa, orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi lingkungan, mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menggulangi perubahan-perubahan traumatis.


sumber :
http://afiantika.blogspot.com/2013/05/kepribadian-sehat-menurut-carl-roger.html
http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2153667-coping-life-style/
Feist, Jess.,&Feist, Gregory. (2010). Teori Kepribadian. Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.   
http://www.psychologymania.com/2012/05/pengertian-stress.html
http://kajianpsikologi.blogspot.com/2012/02/definisi-stres.html




Kamis, 27 Maret 2014

Kesehatan Mental



  1. Kesehatan Mental
Dalam menjalani kehidupan ini sebagai manusia kita membutuhkan semangat, kerja keras , usaha dalam memenuhi baik kebutuhan maupun keinginan. Jika ingin mendapatkan hasil yang diinginkan atau hasil yang optimal didorong dengan kondisi yang sehat. Kondisi yang dimaksud disini ialah kondisi fisik dan mental. Jika kondisi fisik dan mental dalam keadaan sehat tidak hanya terbebas dari penyakit tapi juga terbebas dari gangguan mental. Menurut WHO (World Health Organization) sehat adalah suatu keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental dan sosial secara penuh bukan semata-mata hanya terbebas dari penyakit dan keadaan lemah tertentu. 
kesehatan mental diambil dari konsep mental hygiene, kata mental tersebut berasal dari Bahasa Yunani yang berarti kejiwaan. Defnisi kesehatan mental yang diajukan oleh para ahli masih sesuai dengan keahlian masing-masing. Seperti :
1.       “Kesehatan mental merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan)”. (Menurut Menurut Dr. Jalaluddin dalam bukunya “Psikologi Agama”).
2.      Pieper dan Uden (2006)
Kesehatan mental adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak mengalami perasaan bersalah terhadap dirinya sendiri, memiliki estimasi yang relistis terhadap dirinya sendiri dan dapat menerima kekurangan atau kelemahannya, kemampuan menghadapi masalah-masalah dalam hidupnya, memiliki kepuasan dalam kehidupan sosialnya serta memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
3.      Notosoedirjo dan Latipun (2005)
Terdapat banyak definisi dari kesehatan mental (mental hygene) yaitu:
(1). Karena tidak mengalami gangguan mental,
(2). Tidak jatuh sakit akibat stessor,
(3). Sesuai dengan kapasitasnya dan selaras dengan lingkungannya,
(4). Tumbuh dan berkembang secara positif.
Seseorang yang memiliki kesehatan mental (mental hygene) mempunyai ciri-ciri :
A.    Memiliki sikap batin (attitude) yang positif terhadap diri sendiri.
B.     Aktualisasi diri
C.     Mampu mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi psikis yang ada
D.    Mampu hidup mandiri
E.     Mempunyai persepsi yang obyektif terhadap realitas
F.      Mampu menselaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri. (Jahoda, 1980).
G.    Tidak menyangakal hal-hal buruk yang terjadi di masa lalunya dan masa kini.

  1. Sejarah Kesehatan Mental
ERA PRA ILMIAH
Kesehatan mental yang dikaitkan dengan ilmu psikologi sebenarnya sudah ada sejak jaman pra ilmiah, namun sering dikaitkan dengan kepercayaan terhadap paham Animisme dan Dinamisme. Seperti pada saat jaman era Yunani.

Pada saat jaman Yunani dulu ada suatu aliran yang berpendapat bahwa gangguan mental dan fisik itu akibat dari alam, namun Hipocrates seorang tokoh filsafat Yunani kala itu menolak dan menentang kepercayaan aliran tersebut.

Tidak hanya Hipocrates, ada seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat polotik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, pasiennya dirantai, diikat ketembok dan tempat tidur. Para pasien yang telah di rantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka dianggap sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya.

ERA ILMIAH (MODERN)
Perubahan luar biasa dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di rumah sakit Pensylvania. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics (orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyebab dan cara menyembuhkan penyakit tersebut. Akibatnya pasien-pasien dikurung dalam ruang tertutup, dan mereka sekali-kali diguyur dengan air.

Pada tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. Perkembangan gerakan mental hygiene ini tidak lepas dari jasa Clifford Whitting Beers (1876-1943) bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the MentalHygiene Movement. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.

Secara hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.

Bebarap tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebut meliputi

1) Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, investigasi, eksperimen, penayangan kasus-kasus, diagnosis, dan pengobatan.

2) Membantu lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya.

3) Memberikan latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental.

4) Mengembangkan dan membantu negara dalam menerapkan berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan pengobatan terhadap para pengidap gangguan mental.

Pada tahun 1950, organisasi mental hygiene terus bertambah, yaitu dengan berdirinya National Association for Mental Health. Gerakan mental hygiene ini terus berkembang sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World Federation forMental Health dan The World Health Organization.
  1. Teori Kepribadian Sehat Menurut  :
A.    Aliran Psikoanalisa
Psikolanalisa merupakan salah satu aliran besar dalam dunia psikologi, pencetus awalnya adalah Sigmund Freud, Sepanjang masa hidupnya, Freud adalah seorang yang produktif. Meskipun ia dianggap sosok yang kontroversial dan banyak tokoh yang berseberangan dengan dirinya, Freud tetap diakui sebagai salah seorang intelektual besar. Pengaruhnya bertahan hingga saat ini, dan tidak hanya pada bidang psikologi, bahkan meluas ke bidang-bidang lain. Karyanya, Studies in Histeria (1875) menandai berdirinya aliran psikoanalisa, berisi ide-ide dan diskusi tentang teknik terapi yang dilakukan oleh Freud. Freud yakin bahwa kepribadian tersusun dari tiga sistem utama: id, ego, superego. Setiap sistem mempunyai fungsi sendiri-sendiri.
·         Id (Das es)
Yaitu aspek biologis adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera. Das es = System der unbewussten. Das es merupakan dunia batin atau subjektif manusia, dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia objektif. Das es berisikan hal hal dibawa sejak lahir, termasuk instink. Pedoman dalam berfungsinya das es ialah menghindarkan diri dari ketidak enakan dan mengejar keenakan (prinsip kenikmatan / prinsip keenakan)

·         Ego (Das Ich)
Yaitu aspek psikologis. Berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral. Das Ich : system der Bewussten vorbewussten. Timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan ( realitat ). Prinsip kenyataan / prinsip realitas ( realitatsprinzip, the realityprinciple ) dan bereaksi dengan proses sekunder ( sekundar vorgang , secomdary process ).

·         Superego (Das ueber ich)
Yaitu aspek sosiologis. Merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah. Das ueber ich fungsi pokok : menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.Conscientia : menghukum orang dengan memberikan rasa dosa. Ich Ideal adalah menghadiahi orang dengan rasa bangga akan dirinya.
 Keperibadian yang normal (sehat) :
1)  Kepribadian yang sehat menurut Freud adalah jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah.
2)   Hasil dari belajar dalam mengatasi tekanan dan kecemasan.
3) Kesehatan mental yang baik adalah hasil dari keseimbangan antara kinerja super ego terhadap id dan ego. Prayitno (1998:42)
B. Aliran Behavioristik

Behaviorisme juga disebut psikologi S – R (stimulus dan respon). Behaviorisme menolak bahwa pikiran merupakan subjek psikologi dan bersikeras bahwa psokologi memiliki batas pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang yang dapat diamati. Teori Behaviorisme sendiri pertama kali diperkenalkan oleh John B. Watson (1879-1958)
Aliran behaviorisme mempunyai 3 ciri penting.
1. Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen dari perilaku
2. Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
3. Memfokuskan pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara perilaku manusia dan perilaku binatang. Kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.
menurut penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan adanya rangsangan yaitu berupa stimulus dan diikuti oleh suatu reaksi beupa respons terhadap rangsangan itu. Salah satu penganut watson yang sangat besar masukannya untuk perkembangan behaviorisme adalah B.F. Skinner. Aliran ini memandang manusia seperti mesin yang dapat dikendalikan perilakunya lewat suatu pengkondisian. Ini menganggap manusia yang meberikan respon positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini manusia di anggap tidak memiliki sikap diri sendiri.
Jadi menurut Behaviorisme manusia dianggap memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar. Kepribadian manusia sebagai suatu sistem yang bertingkah laku menurut cara yang sesuai peraturannya dan menganggap manusia tidak memiliki sikap diri sendiri.

Kepribadian yang sehat menurut behavioristik:
1. Memberikan respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya
2. Bersifat sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman
3. Sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan sendiri
4.Menekankan pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang obyektif

C. Aliran Humanistik
Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat.
Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada. Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

  1. Teori Kepribadian Sehat Menurut Abraham Maslow
Menurut Abraham Maslow dalam karyanya Motivation and Personality, memaparkan terlebih dahulu sejumlah proposisi yang harus diperhatikan sebelum seseorang menyusun sebuah teori motivasi yang sehat. Maslow pertama-tama menekankan bahwa individu merupakan kesatuan yang terpadu dan terorganisasi. Pernyataan ini hampir menjadi aksioma yang diterima oleh semua orang, yang kemudian sering dilupakan dan diabaikan tatkala seseorang melakukan penelitian. Penting sekali untuk selalu disadarkan kembali hal ini sebelum seseorang melakukan eksperimen atau menyusun suatu teori motivasi yang sehat.
Maslow menejelaskan kepribadian sehat melalui “Hierarki Kebutuhan Manusia”. Sebuah gambaran tingkatan kebutuhan manusia. Dasar dari hierarki ini menyatakan bahwa seseorang harus memuaskan berbagai kebutuhan dasar fisik maupun psikologisnya agar dapat mencapai tingkat akkualisasi diri. Dalam arti kata lain, seseorang harus memenuhi kebutuhan tingkat yang paling rendah dan yang paling kuat sebelum muncul kebutuhan tingkat kedua dan seterusnya naik tingkat sampai muncul kebutuhan  kelima yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Berikut 5 kebutuhan-kebutuhan itu dalam tingkatan dari yang rendah ke yang tinggi:
1)      Kebutuhan fisiologis
kebutuhan-kebutuhan yang jelas terhadap makanan, air, udara, tidur, dan seks. Pemuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan itu sangat penting untuk kelangsungan hidup.
2)      Kebutuhan-kebutuhan Akan Rasa Aman
kebutuhan-kebutuhan akan jaminan, stabilitas, perlindungan, ketertiban, bebas dari ketakutan dan kecemasan.
3)      Kebutuhan Akan Memiliki dan Cinta
kita dapat menggabungkan diri dengan suatu kelompok atau perkumpulan, nilai-nilai dan sifat-sifat atau memakai pakaian yang sama dengan maksud supaya merasakan perasaan memiliki. Kita memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita akan cinta dengan membangun suatu hubungan akrab dan penuh perhatian dengan orang lain.
4)      Kebutuhan Akan Penghargaan
Penghargaan yang berasal dari orang-orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri. Penghargaan yang berasal dari luar dapat berdasarkan reputasi, kekaguman, status, popularitas, prestise, atau keberhasilan dalam masyarakat. Apabila kita merasakan suatu perasaan penghargaan dari, kita merasa yakin dan aman akan diri kita, kita juga merasa berharga dan adekuat.
5)      Kebutuhan Akan Aktualisasi-Diri
Aktualisasi-diri didefinisikan sebgai perkembangan yang paling tinggi dan penggunaan semua bakat kita, pemenuhan semua kualitas dan kapasitas kita. Dalam diri orang yang mengaktualisasikan diri, yakni orang yang bergerak atau tumbuh dengan cara yang sehat, kebutuhan-kebutuhan yang rendah tidak berbenturan dengan kebutuhan-kebutuhan dasar..


Menurut Maslow individu yang telah mencapai tingkat aktualisasi diri akan selalau berfikir positif dalam segala hal dihidupnya dan telah mencapai tingkat kesehatan mental yang paling tinggi.

http://staciafie.wordpress.com/2013/03/27/konsep-sehat-dalam-kesehatan-mental-psikologi/
http://psyche2nest.wordpress.com/2012/04/26/teori-kepribadian-sehat/
http://prabowo17.blogspot.com/2013/04/perbedaan-kepribadian-sehat-menurut.html