Rabu, 22 April 2015

Teori Psikoanalisis (artikel 4)

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yaitu tingkat yang pertama disebut sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Setelah itu pada tahun 1923 Freud memperkenalkan suatu model struktural terdiri dari tiga yaitu id, ego dan superego. Adanya struktur baru tersebut tidak bertujuan untuk menggantikan struktur yang lama, tetapi bertujuan untuk menyempurnakan gambaran mental dalam fungsi dan tujuannya.
1.Sadar (Conscious)
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saattertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja dari kehidupanmental yang masuk ke kesadaran.

2. Prasadar (pereconscious)
Disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaranyang menjadi jembatan antara sadar dan taksadar. Isi preconscious berasal dari conscious dan dari unconscious. Materi taksadar yangsudah berada di daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.3.

3. Taksadar (Unconscious)
Bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freudmerupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Ketidaksadaran berisiinsting, impuls, dan drives yang dibawa dari lahir, dan pengalaman- pengalaman traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekanoleh kesadaran dipindah ke daerah taksadar
Sturkur Kepribadian 
a. Id atau Das Es (Aspek Biologis)
Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari Id inikemudian akan muncul Ego dan Superego. Saat dilahirkan, Id berisisemua aspek psikologik yang diturunkan seperti insting, impuls, dandrives. Id berada dan beroperasi dalam daerah Unconscious,. Freud juga menyebut Id dengan realitas psikis yang sebenar-benarnya ( TheTrue Physic Reality).Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle)yaitu: berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit.Pleasure principle diproses dengan dua cara, tindak refleks (reflexactions) dan proses primer (primary process). Tindak refleks adalahreaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejapkan mata-mata  dipakai untuk menangani pemuasan rangsang sederhana dan biasanyasegera dapat dilakukan. Proses primer adalah reaksimembayangkan/menghayal sesuatu yang dapat mengurangi ataumenghilangkan tegangan-dipakai untuk menangani stimuluskompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau puting ibunya. Sistem lain yang menghubungkan Id dengan duniaobjektif adalah Das Ich (ego).
b. Ego atau Das Ich (aspek rasional)
Ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani realita:sehingga Ego beroperasi mengikuti prinsip realita (Reality Principle).Prinsip itu dikerjakan melalui proses sekunder (Secondary Process),yakni berfikir realistik menyusun rencana dan menguji apakah rencanaitu menghasilkan objek yang dimaksud. Proses itu disebut uji realita(Reality Testing). Ego sebagian besar berada di kesadaran dansebagian kecil beroperasi di daerah prasadar dan taksadar.Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian yang memiliki duatugas utama:
1. Memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau instingmana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan.
2.Menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuaidengan tersedianya peluang yang resikonya minimal.Dalam menjalankan fungsinya seringkali Das Ich harusmempersatukan pertentangan-pertentangan antara Das Es dan DasUeber Ich dan dunia luar.
c.  Superego atau Das Ueber Ich (aspek sosial atau moral)Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistik (idealistic principle) sebagailawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dari Ego.Prinsip idealistik mempunyai dua sub prinsip, yakni conscience danego-ideal. Apapun tingkah laku yang dilarang, dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima anak menjadi suara hati(conscience), yang berisi apa saja yang tidak boleh dilakukan. Apapunyang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan diterima menjadistandar kesempurnaan (Ego-Ideal), yang berisi apa saja yangseharusnya dilakukan. Proses mengembangkan konsensia dan ego-ideal, yang berarti menerima standar salah dan benar itu disebutintroyeksi (introjection). Sesudah terjadi introyeksi, kontrol pribadiakan mengganti kontrol orang tua. 
Tiga fungsi Superego:
1.Mendorong Ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengantujuan-tujuan moralistik.
2.Merintangi impuls Id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan denganstandar nilai masyarakat.
3.Mengejar kesempurnaan.
Struktur Kepribadian
a)      Represi
Represi adalah mekanisme yang dilakukan oleh ego untuk meredakan kecemasan dengan jalan menekan dorongan-dorongan atau keinginan-keinginan yang menjadi penyebab kecemasan tersebut kedalam tak sadar. Dengan kata lain mekanisme untuk meredakan kecemasan dengan cara menekan tekanan kealam tidak sadar (tidak mengakui adanya doeogan itu).
b)      Sublimasi
Sublimasi adalah mekanisme pertahanan ego yang ditujukan untuk mencegah atau meredakan kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif id yang menjadi penyebab kecemasan kedalam bentuk (tingkah laku) manusia yang bisa diterima dan dihargai masyarakat.
c)      Proyeksi
Proyeksi adalah pengalihan dorongan, sikap atau tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain.
d)     Displacemen
Displacement adalah pengungkapan dorongan yang menimbulkan kecemasan pada objek atau individu yang kurang berbahaya atau kurang mengancam dibanding dengan objek atau individu semula
e)      Reaksi formasi
Reaksi formasi adalah reaksi dimana kadang-kadang ego individu bisa mengendalikan dorongan-dorongan primitive agar tidak muncul sambil secara sadar mengungkapkan tingkah laku sebaliknya
f)       Regrasi
Regresi adalah suatu mekanisme dimana individu untuk menghindarkan diri dari kenyataan yang mengancam, kembali kepada taraf perkembangan yang lebih rendah serta bertingkah laku seperti ketika dia berada dalam taraf yang lebih rendah itu.
g)      Rasionalisasi
Rasionalisasi menunjuk kepada upaya individu menyelewengkan atau memutarbalikkan kenyataan yang mengancam ego, melalui alasan tertentu yang seakan-akan masuk akal
Perkembangan Psikoseksual
Teori psikoanalisa mengenai perkembangan kepribadian berlandaskan dua premis, pertama, premis bahwa kepribadian individu dibentuk oleh berbagai jenis pengalaman masa kanak-kanak awal. Kedua, energy seksual (libido) ada sejak lahir dan kemudian berkembang melalui serangkaian tahapan psikoseksual yang bersumber pada proses-proses naluriah organism.
Freud menyatakan bahwa pada manusia terdapat tiga fase atau tahapan perkembangan psikoseksual yang kesemuanya menentukan bagi pembentukan kepribadian. Tiga fase tersebut adalah :
1. Fase Oral
Fase oral adalah fase pertama yang berlangsung pada perkembangan kehidupan individu. pada fase ini, daerah erogen yang paling penting dan paling peka adalah mulut.yakni berkaitan dengan pemuasan kebutuhan dasar akan makanan atau minuman. Stimulasi atau perangsangan atas mulut merupakan tingkah laku yang menimbulkan kesenangan atau kepuasan.
2. Fase Anal
Fase anal dimulai dari tahun kedua sampai tahun ketiga kehidupan. Pada fase ini energy liibidal dialihkan dari mulut ke daerah dubur,serta kesenangan dan kepuasan diperoleh dengan tindakan mempermainkan atau menahan kotoran (faeces). Pada fase ini pula, seorang anak diperkenalkan kepada aturan-aturan kebersihan yang disebut toilet training.
 3. Fase Falik
Fase falik ini berlangsung pada tahun keempat atau kelima, yakni suatu fase ketika energi libido sasarannya dialihkan dari daerah dubur kedaerah alat kelamin. Pada fase ini anak mulai tertarik pada alat kelaminnya sendiri dan mempermainkannya dengan maksud untuk memperoleh kepuasan.
4. Fase laten (latency stage)
Fase ini terjadi kira-kira usia 6 sampai pubertasPada fase ini dorongan seks cenderung bersifat laten atau tertekan.
5. Fase genital (genital stage):
Fase ini terjadi sejak individu memasuki pubertas dan selanjutnya. Pada masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi.
Tujuan Pendekatan
            Tujuan terapi psikoanalitik adalah adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien. Proses terapeutik di fokuskan pada upaya mengalami   kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman masa lampau di rekontruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekontruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan dimensi afektif dari upaya menjadikan ketaksadaran diketahui. Pemahaman dan pengalaman intelektual memiliki arti penting. Tetapi perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan yang berkaitan dengan pemahaman diri lebih penting lagi.
Proses Terapi
            Dengan analis dikonseptualkan dalam proses transferensi yang menjadi inti pendekatan psikoanalitik, tranpernsi mendorong klien untuk mengalamatkan pada analis “urusan yang tak selesai ”yang terdapat dalam hubungan klien dimasa lampau dengan orang yang berpengaruh. proses pemberian treatman mencakup merekontruksi klien dan menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa lampaunya, setelah terapi berjlan dengan baik, perasaan-perasaan dan konflik masa anak-anak klien mulai muncul kepermukaan dari ketaksadaran. Jika terapi diinginkan memiliki pengaruh menyembuhkan, maka hubungan transferensi harus digarap. Proses transferensi melibatkan eksplorasi oleh klien atas kesejajaran- kesejajaran antara pengalaman masa lampau dan pengalaman masa kini. Dimensi utama dari proses penggarapan itu adalah hubungan transferensi, yang membutuhkan waktu untuk membangunnya serta memerlukan tambahan waktu untuk memahami dan melarutkannya, maka penggarapannya memerlukan jangka waktu yang panjang bagi keseluruhan proses teurapeutik. Sebagai hasil hubungan terapeutik, khususnya penggarapan situasi transferensi, klien memperolah pemahaman terhadap psikodinamika tak sadarnya, kesadaran dan pemahaman atas bahan yang direpresi merupakan landasan bagi proses pertumbuhan anlitik. klien mampu memahami asosiasi antara pengalaman – pengalaman masa lampaunya dengan kehidupan sekarang. Pendekatan psikoanalitik berasumsi bahwa kesadaran diri ini bisa secara otomatis mengarah pada perubahan kondisi klien.
1.     Asosiasi Bebas
Teknik utama terapi psikoanalitik adalah asosiasi bebas. Disini klien diminta melaporkan segera tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya. Klien diminta untuk mengatakan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya, seperti pikiran, harapan, dan lain-lain, walaupun kelihatannya hal-hal tersebut tidak penting, tidak logis, menyakitkan, ataupun menggelikan. Freud memikirkan bahwa asosiasi bebas ini ditentukan oleh suatu sebab, bukan hal yang acak. Tugas analislah untuk melacak asosiasi ini sampai kesumbernya dan mengidentifikasi suatu pola sebenarnya yang tadinya hanya terlihat sebagai rangkaian kata yang tidak pasti. Terlepasnya emosi yang kuat, yang selama ini ditekan pada situasi terapeutik inipun kemudian disebut sebagai katarsis.
Cara yang khas ialah klien berbaring diatas balai-balai sementara analisis duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi-asosiasinya mengalir bebas. Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau, yang dikenal dengan sebutan katarsis. Hal ini dilakukan guna membantu klien dalam memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif, analis menafsirkan makna-makna utama dari asosiasi bebas ini.
2.       Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam meganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan tranferensi-transferensi. Prosedurnnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran-penafsiran analisis menyebabkan pemahaman dan tidak terhalangi bahan tak sadar pada pihak klien.
3.       Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan mengistimewa menuju ketaksadaran”, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari, diungkapkan. Analisa terhadap mimpi ini biasanya dilandasi oleh konsep psikoseksual, serta termuat isu gender. Contohnya adalah mimpi mengenai sebuah pohon dapat diinterpretasikan sebagai keinginan untuk mengekspresikan dorongan seksual apabila diimipikan oleh laki-laki, atau representasi dari keinginan untuk memiliki superioritas laki-laki bila dimimpikan oleh perempuan. Dalam hal ini, pohon dipandang sebagai representasi dari alat kelamin laki-laki.
4.       Analisis dan penafsiran resistensi
Resistensi merupakan sebuah konsep yang fundamental dalam praktek psikoanalitik adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Sebagai pertahanan terhadap kecemasan, resistensi bekerja secara khas dalam terapi psikoanalitik dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran klien.
5.        Analisis dan penafsiran transferensi
Sama hal nya dengan resistensi, transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Analisis transferensi yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Transference adalah saat pasien mengembangkan reaksi emosional keterapis. Hal ini bisa saja dikarenakan pasien mengidentifikasi terapis sebagai seseorang dimasa lalunya, misalnya orang tua atau kekasih. Disebut positive transference apabila perasaan itu adalah perasaan saying atau kekaguman, serta negative transference apabila perasaan ini mengandung permusuhan dan kecemburuan.
Sumber:



Client – Centered (Carl R. Rogers) artikel 3

            Carl Rogers adalah orang yang diidentikkan dengan konseling tipe ini. Ialah yang pertama-tama memformulasikan teori ini dalam bentuk psikoterapi nondirektif di dalam bukunya. Conseling and psychotherapy, yang terbit pada tahun 1942. Teori ini kemudian berkembang menjadi client-centered/person-centered counseling dan diaplikasikan untuk pendekatan kelompok, keluarga, masyarakat dan juga untuk individu.
Carl R. Rogers mengembangkan terapi client-centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis pada hakikatnya, pendekatan client-centered adalah cabang khusus dari terapi humanistic yang menggaris bawahi tindakan mengalami client berikut dunia subjektif dan fenomenalnya. Terapis berfungsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi clientnya dengan jalan membantu clientnya itu dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah. Pendekatan client-centered menauruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan client untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapeutik antara terapis dan client merupakan katalisator bagi perubahan, client menggunakan hubungan yang unik sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan untuk menemukan sumber-sumber terpendam yang bisa digunkanan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya.

Sumber :
Lesmana, J. M. (2008). Dasar-dasar konseling. Salemba: Universitas Indonesia (UI-Press)
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling & psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.

Humanistic eksistensial (Artikel 2)

Eksistensial-Humanistik
            Psikologi telah lama di dominasi oleh pendekatan empiris terhadap studi tentang tingkah laku individu. Banyak ahli psikologi Amerika yang menunjukkan kepercayaan pada definisi – definisi oprasional dan hipotesis-hipotessis yang bisa diuji serta memandang usaha memperoleh data empiris sebagai satu-satunya pendekatan yang sahih guna memperoleh informasi tentang tingkah laku manusia. Di masa lalu tidak terdapat bukti adanya minat yang serius terhadap aspek-aspek filosofis dari konseling psikoterapi. Pendekatan eksistensial-humanistik, di lain pihak menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh. Banyak ahli psikologi yang berorientasi eksistensial yang mengajukan argument menentang pembatasan studi tingkah laku manusia pada metode-metode menentang pembatasan studi tingkah laku manusia pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu pengetahuan alam.
            Menurut Gladding (dari Lesmana, 2008) Istilah humanistik dalam hubungannya dengan konseling, memfokuskan pada potensi individu untuk secara aktif memilih dan membuat keputusan tentang hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Para professional yang memakai pendekatan humanistic membantu individu untuk meningkatkan pemahaman diri melalui mengalami perasaan-perasaan mereka. Istilah humanistic sangat luas dan memfokuskan pada individu sebagai pembuat keputusan dan pencetus pertembuhan dan perkembangan diri sendiri.
            Tujuan dasar banyak pendekatan psikoterapi adalah membantu individu agar mampu bertindak, menerima kebebasan dan tanggung jawab untuk tindakan-tindakannya. Terapi eksistensial terutama berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan. Dalam penerapan-penerapan, terapeutiknya, pendekatan eksitensial-humanistik memusatkan perhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang melandasi terapi. Pendektan eksistensial humanistic menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya , dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu individu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.

Sumber :
Lesmana, J. M. (2008). Dasar-dasar konseling. Salemba: Universitas Indonesia (UI-Press)
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling & psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.


Selasa, 21 April 2015

Psikoanaltik (Artikel 1)

Salah satu aliran utama dalam sejarah psikologi adalah teori psikoanalatik Sigmund Frued. Psikoanalisa adalah ebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia, dan metode psikoterapi. Secata historis , psikoanalisa adalah aliran pertama dar tiga aliran utama psikologi, yang kedua adalah behaviorisme, sedangkan yang ketiga adalah eksistensial-humanistik. Perlu diingat bahwa Freud adalah pencipta pendektakan psikodinamika terhadap psikologi, yang memberikan pandangan baru kepada psikologi dan menemukan cakrawala-cakrawala baru. Ia, misalnya, membangkitkan minat terhadap motivasi tingkah laku. Freud juga mengundang banyak konterversi, eksplorasi, penelitian, dan menyajikan landasan tempat bertumpu sistem-sistem yang muncul kemudian.
            Seumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikoanalik mencakup :
1.      kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada peredaan penderitaan manusia
2.      tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar
3.      perkembangan pada masa dini kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa
4.      teori psikoanalitik menyediakan kerangka ker a yang berhaga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengendaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja ntuk menghindari luapan kecemasan
5.      pendekatan psikoanlitik ah memberikan cata-cara mencari keterangan dari ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi , resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi.
Pendektan psikoanaltik menekankan pentingnya riwayat hidup klien (perkembangan psikoseksual), pengaruh dari implus-implus genetik (instink), energy hidup (libido), pengaruh dari pengalaman dini kepada kepribadian individu, serta irasional dan sumber-sumber tak sadar dari tingkah laku manusia. Konsep psikoanalitik mengenai taraf kesadaran merupakan kontribusi yang sangat signifikan. Taraf conscious berisi ide-ide yang disadari individu pada saat itu, taraf preconscious, berisi ide-ide yang tidak disadari individu pada saat itu, tetapi dapat dipanggil kembali, taraf unconscious, berisi memori dan ide yang sudah dilupakan oleh individu. Menurut Frued, yang tidak disadari merupakan bagian terbesar dari kepribadian dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat pada tingkah laku individu.

Selasa, 24 Maret 2015

Penjelasan dari Perbedaan Psikoterapi & Konseling


Menurut beberapa ahli menyatakan bahwa tidak ada hal yang signifikan mengenai perbedaan antara konseling dan psikoterapi. Walau perbedaan itu tetap ada dilihat pada hal mendasar yaitu terapis atau konselornya selaku individu yang akan menangani individu lain. Jenjang pendidikan yang mereka tempuh mempunyai latar belakang berbeda walaupun pada mata kuliah tertentu mempelajari hal yang sama. Dilihat pula dari tempat prakteknya, jika konselor bisa praktek di lembaga pendidikan, sekolah lembaga atau biro khusus hal ini juga bisa dilakukan oleh psikoterapi. Begitu sebaliknya jika psikoterapi melakukan praktek pada lembaga kesehatan, konseling pun dapat melakukan praktek ditempat tersebut.
Dari segi metode, tidak banyak perbedaan pada psikoterapi dan konseling. Seperti yang dinyatakan oleh Black (1952) bahwa beberapa metode yang universal dan esensial pada psikoterapi seperti rapport, menerima dan menghargai pasien, kualitas hubungan dengan pembatasan – pembatasannya dapat digunakan pada konseling.

II.   Penjelasan Pendekatan terhadap Mental Illness
a.         Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Karena pada masa itu seseorang yang mengalami gangguan jiwa itu diberlakukan tidak manusiawi.
b.         Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Pada pendeketan ini pengaruh social ikut berpengaruh seperti ketidakmampuan individu berkomunikasi dengan orang lain dan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup.
c.         Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
d.         Philosopic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.
III.  Bentuk Utama Terapi
a.         Psikoterapi Suportif
Jenis terapi ini mendukung fungsi ego, memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik, memperbaiki ke suatu keadaan keseimbangan tang lebih adaptif.
Cara atau pendekatan: bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.
b.         Psikoterapi Reedukatif
Bentuk terapi ini mempunyai tujuan mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan.
Cara atau pendekatan: Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama, dll.
c.         Psikoterapi Rekonstruktif
Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.
Cara atau pendekatan: Psikoanalisis klasik dan Neo-Freudian (Adler, Jung, Sullivan, Horney, Reich, Fromm, Kohut, dll.), psikoterapi berorientasi psikoanalitik atau dinamik.

sumber :

Perbedaan Psikoterapi & Konseling (PART 2)

I.                   Perbedaan Psikoterapi dan Konseling
Secara tradisional, dalam membedakan antara psikoterapi dan konseling itu merupakan hal yang mudah. Pada konseling , konselor menghadapi orang normal sementara pada psikoterapi yang dihadapinya adalah orang yang memiliki gangguan neurosis atau psikosis.
Akan tetapi, pendapat lain datang dari para ahli tentang perbedaan antara psikoterapi dan konseling. Seperti yang di nyatakan oleh Patterson (1959) kedua hal tersebut tidak mempunyai perbedaan yang signifikan. Hal itu dilihat dari penciptaan rapport, peranan klien dan arah hubungan atau pendekatannya sama-sama digunakan dalam psikoterapi dan konseling. Hal sama dikemukakan pula oleh Black (1952) bahwa beberapa metode universal dan esensial pada psikoterapi , seperti rapport, menerima dan menghargai hakikat dan martabat pasien, kualitas hubungan dan pembatasan – pembatasannya semua digunakan pula dalam konseling.
Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph (1983) menyimpulan perbedaan psikoterapi dan konseling, sebagai berikut :
No.
KONSELING
PSIKOTERAPI
1
Klien
Pasien
2
Gangguan yang kurang serius
Gangguan yang serius
3
Masalah : Jabatan, pendidikan
Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
4
Berhubungan dengan pencegahan
Berhubungan dengan penyembuhan
5
Lingkungan pendidikan dan nonmedis
Lingkungan medis
6
Berhubungan dengan kesadaran
Berhubungan dengan ketidaksadaran
7
Metode pendidikan
Metode penyembuhan

II.                Pendekatan terhadap Mental illness
a.       Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi.
b.      Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan
c.       Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
d.      Philosopic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.
III.             Bentuk Utama Terapi
a.       Psikoterapi Suportif
Jenis terapi ini mendukung fungsi ego, memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik, memperbaiki ke suatu keadaan keseimbangan tang lebih adaptif.
b.      Psikoterapi Reedukatif
Bentuk terapi ini mempunyai tujuan mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan.
c.       Psikoterapi Rekonstruktif

Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.

Sumber :
https://books.google.co.id/books?id=-vjvjGDxJi4C&pg=PA85&lpg=PA85&dq=perbedaan+konseling+dan+psikoterapi&source=bl&ots=nycqId_18l&sig=mwdi0L2gZabsAwNVmTkQ_Ew72gE&hl=en&sa=X&ei=43QRVcS5Gs-puwTd94LgCw&ved=0CFYQ6AEwBw#v=onepage&q=perbedaan%20konseling%20dan%20psikoterapi&f=false
http://sisykurniaasih.blogspot.com/2013_03_01_archive.html

Psikoterapi (PART 1)

I.          Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi adalah suatu interaksi antara terapis dan klien yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis. Dimana interaksi ini difokuskan untuk membantu klien untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupannya. Seperti mengubah pola pikiran, perasaan dan perilaku dari klien. Terlebih lagi mengarahkan klien untuk berkembang menjadi individu yang jauh lebih baik.
Menurut bahasa psikoterapi berasal dari kata “psyche” yang berarti jelas,mind, jiwa, dan “therapy” yang berarti merawat atau mengasuh. Jadi psikoterapi secara etimologis berarti perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang
     Selain itu, terdapat definisi dari beberapa ahli. Seperti, Menurut Watson dan Morse (1977), psikoterapi dirumuskan sebagai: Bentuk khusus dari interaksi antara dua orang, pasien dan terapis, pada mana pasien memulai interaksi karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan dan tindakannya

II.       Tujuan Psikoterapi
a.      Dengan dilakukan psikoterapi akan memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal-hal yang benar. Hal ini biasanya dilakukan melalui terapi yang bersifat direktif dan suportif. Persuasi dengan berbagai cara, mulai dari nasehat yang sederhana sampai dengan hypnosis, untuk menolong orang bertindak dengan cara yang tepat.
b.    Dapat mengurangi tekanan emosi yang sedang di alami klien dan dapat menolong pasien untuk mengekspresikan perasaannya secara terbuka (tidak ada yang ditahan atau di tutupi). dengan menceritakan pengalaman yang telah lalu akan menimbulkan pengalaman yang baru.
c.  Psikoterapi dapat membantu klien mengembangkan potensi yang dimilikinya, melalui hubungan antara terapi dan klien, klien mampu mengarahkan dirinya ke arah yang lebih positif.
d.   Mengubah kebiasaan. Terapi memberi kesempatan untuk merubahperilaku. Terapis bertugas menyiapkan situasi belajar baru yang dapat digunakan untuk untuk mengganti kebiasaan-kebiasaan yang kurang adaptif. Pendekatan perilaku sering digunakan untuk mencapai tujuan ini.
e.    Mengubah pola pikir atau struktur individu terhadap permasahalan dan terhadap kenyataan.
f.     Meningkatkan kemampuan diri atau insight. Terapi ini menuntun klien untuk lebih mengerti tentang apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukannya. Dan terlebih lagi klien menyadari apa yang dilakukan.

III.     Unsur – Unsur Psikoterapi
     Menurut Masserman ada tujuh “ parameter pengaruh” dasar yang mencakup unsur – unsur lazim pada semua jenis terapi. Unsur – unsur tersebut sebagai berikut :
a.        Peran social “martabat” psikoterapis,
b.      Hubungan (persekutuan terapeutik),
c.       Hak retrospeksi,
d.      Re- edukasi,
e.       Rehabilitasi,
f.       Resosialisasi,
g.      Rekapitulasi

Sumber :
Gunarsa, S.D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
Prabowo, Riyanti . (1998). Psikologi Umum 2. Jakarta : Gunadarma